Kebohongan Publik Oleh Seorang Nenek

oleh Bondand suwarno

Bagian – 1

Sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam khususnya kaum laki-laki yang sudah dewasa atau yang sudah akhil baligh setiap Jum’at wajib melaksanakan sholat jumat berjamah begitu juga saya selalu rajin sholat dan tidak pernah ketinggal sholat jumat di masjid Al-Hijrah di kompleks PUSDATIN Dephan lokasinya tepat didepan RS Prikasih seberang kampus UPN Jakarta juga dekat dengan pusat keramaian publik yaitu PD Pasar Pondok Labu.

Kemiskinan membuat iman seseorang mudah goyah dengan berbagai cara orang melakukan apa saja untuk mendapatkan uang, ada yang mengais-ngais sampah untuk mendapat sepeser uang walaupun hanya beberapa ribu rupiah, ada sebagian orang rela nangkring di atas rakit memungut sampah yang menyangkut diatas kali Ciliwung.

Beda dengan nenek yang satu ini kreatif dan efesien dalam mencari nafkah, kalau kita menyaksikan seorang ibu-ibu  pengemis dengan membawa anak usia Balita entah dengan menyewa ataupun dengan mebawa anak sendiri ,itu sudah biasa, lain lagi dengan seorang nenek yang saya sebut sebagai sebuah nenek yang pandai membohongi publik secara sempurna pas sesempurnanya sebuah kebohongan terhadap opini publik. Alias pada kena kibul istilah orang Jakarta atau juga biasa disebut “dikibuli” oleh nenek renta yang satu ini, saya termasuk salah satunya hingga memposting artikel ini ):

Hari Jum’at adalah hari panen bagi nenek “Minah” (sebut saja begitu namanya saya sendiri nama aslinya sih  tidak tau), modus operandi inilah yang menjadi judul posting saya selain modus operandi ini mudah untuk mengibuli orang juga pas dengan usia nenek minah untuk melakukan aksinya.

Ceritanya begini…

Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di pengemis, ria jenaka, sosial | Tag , , | 13 Komentar

Lorong Menuju Halte Busway Terminal Pulogadung

Waktu menunjukan pukul 04.45, begitu saya menginjakan kaki di terminal Pulogadung, udara masih terasa sangat dingin kebetulan semalam sepanjang perjalan dari Cilacap dan di wilayah Cirebon hingga Jakarta diguyur hujan yang cukup lebat dan kebetulan kendaraan yang saya tumpangi Bis Sinar Jaya dari Cilacap air conditionernya (AC) berfungsi secara tidak normal, kalau biasanya di tiket tercantum Bis AC tetapi kenyataannya yang keluar dari fentilasi AC hanya udara yang berbau apek bercampur bau keringat walaupun tarifnya masih selangit tetapi kenyamanan suatu barang mahal untuk gambaran umum angkutan yang dari dan menuju kotaku dan hampir seragam di seluruh republik ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ria jenaka, sosial | Tag , , , , , | 1 Komentar

Mpok Keben Pakai Celana Lejing

Jam ditangan kanan, rambut dipotong ngbob, alis di dicukur habis lalu di pulas hitam seperti coretan anak TK bikin setengah lingkaran, leher berkalung mutiara imitasi yang berwarna krem, bibir bergincu merah merekah, pipi berbedak tebal merek  viva yang berharga 1500 rupiah, tidak lupa dia menggunakan blash on supaya pipi merah merona, seperti pipinya Julia Perez kaus ketat warna hitam, dan tidak ketinggalan yang menjadi trade marknya m’pok Keben adalah CELANA LEJING warna hitam pula, sebagai penutup mpok Keben menaburkan pewangi di kesekujur tubuhnya dengan parfum deodorono oplosan seharga Rp.10.000  campur aduk dari merk, J’lo sepuluh tetes, merk Paris Hilton, 10 tetes, calvin clin 10 tetes, jovan sepuluh tetes, tresor sepuluh tetes, poison, 10 tetes  dan lain sebagainya hingga terkumpul sebuah parfum campur aduk sebanyak 10 ml yang dikemas apik dalam botolan yang dia beli di Pasar Parung, biasanya M’pok Keben memesan parfum sama Bang Rembo pedagang parfum yang bertubuh sedikit gempal tidak terlalu tinggi dan berkulit gelap, berambut ikal hitam kemerah-merahan karena panas matahari bukan di cat pirang, dia  pandai meracik parfum selera gue kata M’pok Keben bergumam….gue mah resep kalo bang Rembo yang ngeracik parfum celoteh dia kalau di Tanya orang.

Hendak kemanakah gerangan si mpok ini ko berdandan habis-habis seperti ini ? mungkin bagi banyak orang akan bertanya-tanya seperti ini ?….

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ria jenaka | 11 Komentar

Survei Betis Kaki

Seiring dengan banyaknya kendaraan bermotor di Indonesia, bisa dikatakan semakin meningkatnya pendapatan penduduk pada masyarakat terbukti dengan banyaknya sepeda motor baru berseliweran di jalan-jalan Ibu kota Jakarta dan kota-kota besar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, ambon, Irian, Bali Hingga NTT, sepeda motor adalah alat transportasi yang paling MOBILE bila dibandingan dengan model transportasi lain, disamping mudah untuk mendapatkannya dengan kredit dengan syarat foto copy KTP, KK, rec listrik, slip gaji sebagai syarat utama namun tidak jarang dealer memberikan kredit sepeda motor hanya dengan foto copy KTP dan uang muka cukup Rp. 500.000,- orang akan mendapatkan sepeda motor yang akan dikirim kerumah.

Mengacu data AISI, total produksi motor nasional Januari- Oktober 2009 mencapai  4.787.757 unit. Hasil itu diperoleh dari lima merek, yaitu Honda  2.201.147 unit, Yamaha 2.176.757 unit, Suzuki 358.352 unit, Kawasaki (50.026 unit dan Kanzen 1.812 unit. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ria jenaka | 2 Komentar

RIWAYAT MADAT DI PULAU JAWA

Banyak orang mengira bahwa  penggunaan narkoba khususnya opium merupakan gejala kontemporer, yang muncul menyertai modernnisme. Padahal berbagai dokumen pemerintah colonial Belanda menunjukan bahwa opium atau madat sudah merasuki penduduk pulau Jawa sejak abad 17.

Bagian II

Orang jawa mengonsumsi madat tergantung kepada status social ekonomi, selera dan peralatan yang digunakannya, seperti dihisap dengan pipa, rokok-rokok dengan tembakau atau dimakan. Orang orang kaya menghisap candu dari kualitas lebih baik yang harganya lebih mahal menggunakan pipa khusus yang sangat bagus. Rakyat kebanyakan mengkonsusmsi madat kualitas rendah yang disebut tike yaitu madat yang dicampur dengan rajangan halus daun awar-awar dan gula.,  dengan menggunakan pipa sederhana,  adakalanya sekedar pelepah daun papaya. Banyak pula yang menghisap tike dicampur tembakau yang direndam atau dibasahi  madat dan dilinting dengan kulit jagung , atau dicampur dengan kopi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di sosial | Meninggalkan komentar