RIWAYAT MADAT DI PULAU JAWA


Banyak orang mengira bahwa  penggunaan narkoba khususnya opium merupakan gejala kontemporer, yang muncul menyertai modernnisme. Padahal berbagai dokumen pemerintah colonial Belanda menunjukan bahwa opium atau madat sudah merasuki penduduk pulau Jawa sejak abad 17.

Bagian II

Orang jawa mengonsumsi madat tergantung kepada status social ekonomi, selera dan peralatan yang digunakannya, seperti dihisap dengan pipa, rokok-rokok dengan tembakau atau dimakan. Orang orang kaya menghisap candu dari kualitas lebih baik yang harganya lebih mahal menggunakan pipa khusus yang sangat bagus. Rakyat kebanyakan mengkonsusmsi madat kualitas rendah yang disebut tike yaitu madat yang dicampur dengan rajangan halus daun awar-awar dan gula.,  dengan menggunakan pipa sederhana,  adakalanya sekedar pelepah daun papaya. Banyak pula yang menghisap tike dicampur tembakau yang direndam atau dibasahi  madat dan dilinting dengan kulit jagung , atau dicampur dengan kopi.

Tingkat konsumsi tergantung pada sirkulasi uang dipedesaan dan karenya berfluktuasi sesuai dengan kondisi umum perekonomian. Dua kenyataan yaitu pertama, mayoritas pengguna madat adalah orang-orang Jawa asli bukan orang etnis Cina yang lebih mementingkan keuntungan dari pada perimbangan moral, dan bukan pula orang-orang Belanda yang lebih berkepentingan dengan hasil pajak opium.  Kedua, pasar madat di Jawa  merupakan pasar yang luas  terssusun dari ratusan ribu sampai jutaan individu yang hanya membeli madat seharga beberapa sen perhari yang justru menentukan besar dan luasnya pasar madat.

Belanja madat orang-orang Jawa bergantung  kepada pekerjaan dan penghasilannya. Para kuli, pekerja pasar, buruh perkebunan, pedagang kecil dan para pekerja rendahan dengan pendapatan per orang perhari rata-rata 25 sen, membeli madat sebesar 5 sen perhari, para seniman, wirausahawan, atau pejabat pemerintah dengan pendapatan rata-rata 60 sen sampai dengan 200 sen per hari  belanja madat lebih besar. Pada tahun 1880-an sangat jarang orang membeli madat lebih dari 20 sen per hari. Belanja rata-rata pemadat yang paling umum adalah 5 sen per hari. Buruh perkebunan sering menggunakan madat  yang disediakan oleh majikan mereka.

Orang jawa mengkonsumsi madat karena rasa lezat, senang, riang dan  fantasi seks yang ditimbulkannya. Di Jawa rumah-rumah bordil hampir selalu berdekatan dengan madat dan identik dengan pondok opium. Banyak orang muda yang mendapatkan kebiasaan menghisap madat untuk pertama kalinya sebagai pelanggan bordil.

Pesta kawula muda sering berkaitan dengan konsumsi madat  dan perempuan. Ada kalanya para suami menghisap madat atas anjuran istri mereka untuk mencegah mereka kawin lagi. Menghisap madat dipandang sebagai media social penting dalam pergaulan di warung-warung dan rumah-rumah bordil dengan teman.

Dampak penggunakan madat yang terjadi pada individu, terjadi pula pada kerajaan. Sejarah membuktikan bahwa banyak rakyat yang menjadi pemadat menyebabkan runtuhnya kerajaan, aturan hukum, moral dan ketika, kewibawaan keteladanan pemimpin, nilai-nilai moral serta perpecahan dikalangan elit istana, perbudakan dan cengkraman penguasaan penjajah yang semakin kuat. Kombinasi antara kelemahan politik dan kemerosotan moral kalangan elit menyebabkan hancurnya Negara.

Ada sikap mendua dikalangan rakyat, antara menyenangi perasaan senang yang ditimbulkan oleh madat dan keinginan untuk menghindarkan diri dari bahayanya. Pengaruh buruk penggunaan madat terhadap ekonomi rumah tangga juga terbutki menjadi bagian dari keprihatinan. Madat juga menimbulkan ketergantungan bila dikonsumsi sesedikit apapun. Para pengguna harus meningkatkan konsumsi mereka setelah beberapa waktu guna mempertahankan pengaruh yang diinginkan. Jika berhenti mengkonsumsinya akan terjadi gejala akan putus obat.

Pondok madat tersebar diseluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.. Selain pondok tersebut ada tempat menghisap madat pribadi. Pondok madat terdapat di kota-kota dekat tempat tinggal para priyayi, pada umunya terletak di belakang masjid di alun-alun, terbuat dari bambu, beratap rendah dan berlantai tanah. Pondok madat mempunyai 24 bilik kecil yang masing-masing dilengkapi sebuah balai-balai panjang dan bantal, diterangi lampu minyak yang bercahaya redup, serta dijaga oleh seorang penjaga pondok dan sejumlah wanita muda yang melayani para penghisap madat di tiap bilik.

Seseorang masuk ke dalam pondok madat,  membayar sejumlah uang kepada penjaga dan menerima secarik kertas  bertuliskan sejumlah uang yang dibayarkan dalam tulisan Cina. Kertas tersebut diserahkan gadis pelayan bilik. Didalam bilik, pemadat berbaring dibalai-balai dengan posisi miring setelah membuka ikat kepalanya, dan rambut panjangnya tergerai diatas bantal. Pelayan mendekatinya dan mengeluarkan sedikti madat dari sebuah kotak kecil, menghangatkannya dengan api lampu minyak, mencampurnya dengan sedikit tembakau dan kemudian digiling menjadi butiran madat tersebut kemudian letakan dalam mangkuk pipa madat dan diberikannya kepada kepemadat.

Opium diimpor dalam bentuk mentah  untuk diolah menjadi produk siap konsumsi local. Setiap syahbandar memiliki seorang ahli kimia  yang meracik dan menghasilkan madat  berbagai macam rasa dengan mengubah porsi opium Bengali dan Turki yang digunakan dan mencampurnya  dengan caramel, sari jeruk atau jicing (sisa candu). Formula racikan madat berbeda antara  daerah satu dengan daerah lainnya tergantung  dari selera konsumennya. Seorang syahbandar yang cerdik akan berusaha memuaskan selera pelanggannya dengan membuat berbagai macam produk madat.

Opium mendapat sambutan luas masyarakat sehubungan dengan khasiatnya, dan kondisi kehidupan orang Jawa yang rentan penyakit akibat pola hidup, lingkungan yang tidak sehat, air dan sanitasi yang buruk, fabah penyakit dan minimnya fasilitas dan tenaga kesehatan. Orang Jawa meminum madat sebagai analgesic, stimulant, penambah energi, dan pencipta perasaan nyaman.

Para pemadat priyayi sangat menikmati kebiasaanya menghisap madat. Menurut hasil analisis seorang ahli kimia Belanda terhadap opium pada tahun 1889,  candu sebanyak 1 tike mengandung sekitar 15 mg morfin. Pembelian seharga 20 sen mengandung 60 mg morfin. Para pemadat mengonsumsi antara 15-60 mg gram morfin setiap harinya. Menghisap madat merupakan cara efisien menyerap morfin. Sebagian morfin hangus terbakar , sebagian lagi menjadi sisa. Seorang pemadat hanya mengisap 10 % morfin yang ada di dalam madat yang dihisapnya.

Fluktuasi pendapatan rakyat berkaitan dengan  siklus panen, paceklik dan perbedaan pendapatan individu menyebabkan fluktuasi konsumsi madat. Orang beralih keramuan murahyang hanya mengandung hanya sedikit candu, seperti tike yang lelbih ringan, atau beralih ke jicing yang dilarutkan ke dalam air panas. Ada pula yang beralih ke ganja untuk mengganti atau menambah candu.

(Holil S disarikan dari buku James . Rush, Opium to Java).
Iklan

Tentang bondandsuwarno

cool, calm and confident
Pos ini dipublikasikan di sosial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s